Cerita Lengkap: Kisah Marwan dan Mawar

15 September 2016

Marwan ikut CASN 2016.


Hari ini dan beberapa hari ke depan, mata ini susah berpejam normal sebagaimana yang dipersyaratkan ilmu kesehatan

Itu saya, apalagi Marwan. Perjuangan bukti cintanya dipertaruhkan, harus segera menyandang label CASN 2016 seperti yang diimpikan orang tua Mawar.

Mata Marwan memerah, semangatnya berapi-api, detak jantung menempuh irama tak normal. Janjinya meyakinkan Mawar untuk bertahan menunggu, sebagian besar penentunya didasarkan pada berhasil tidaknya dia melulusi tes CASN ini

Jangan pertanyakan perjuangan Marwan mempersiapkan diri menghadapi tes. Mulai lembar sampul, daftar isi, materi TIU, TWK, TKP sampai bagian daftar pustaka pun dari buku simulasi CAT CASN 2016 berlogo garuda dilahapnya tak bersisa. Simulasi online, offline, mengikuti pembimbingan intensif, berikut tanya jawab sesama pendaftar tak luput dari rutinitasnya. Jampi-jampi dari leluhur sekeluarga di kampung didalaminya dengan arif penuh takzim filosofis. Doa kepada Tuhan siang malam secara beruntun berderet dia munajatkan, malah malaikat sempat seolah tak memprediksi peningkatan kadar religiusitas Marwan akhir-akhir ini.

...Waktu penyiapan berlalu dan hari ini dia menjalani tesnya. Terputus komunikasi saya dengannya sejak tadi malam, mungkin karena sementara menenangkan diri mengendapkan apa yang telah dia pelajari selama ini. Atau barangkali Marwan tiba-tiba beralih fokus, tekun menganalisis siapa sosok laki-laki pemilik sepasang sepatu yang letaknya berdampingan dengan sepatu Mawar yang dipasang sebagai foto profilnya?

Bersambung...

16 September 2016

Marwan dalam kewajaran Mawar. SKD yang mengerutkan dahi


Pantaslah Marwan begitu menggebu mempertahankan janjinya dengan Mawar. Kala dulu dia terjatuh, Mawarlah yang paling perdana mengulurkan tangan meraihnya. Saat Marwan kehilangan Melati, imbas belati yang ditusukkannya, Mawar pula mentor penyembuh luka yang mujarab.

Mawar juga dikenal aktif menjadi perempuan sesungguhnya saat berada di samping para sahabat Marwan. Tak sungkan meladeni larut malam kebersamaan, menampung keluhan dengan bersabar dan jembar memahami dialektika. Senyum bersahaja selalu berjibaku menyertai kepeduliannya

Sebuah pertimbangan wajar bagi hadirnya rasa mencintai mati-matian yang tak wajar dari Marwan terhadap Mawar.

Sesaat sebelum lepas komunikasiku dengan Marwan, malam sebelum mengikuti SKD CASN 2016, dia masih sempat membanggakan Mawar. Seakan tak menghiraukan soal TKP-TWK-TIU yang mengerutkan dahi dan sekitarnya. Sepertinya dia tak khawatir lagi dengan portal passing grade kelulusan yang bisa menyulap dingin ruang tes ber-AC menjadi suasana panas berbeda.

Saya saja, setelah mencermati situasi ini, berkali-kali memutuskan tak boleh di sini, entah harus menelusup menggunakan cara apa agar komitmen pengabdian bagi negeri semakin dilirik oleh Jakarta sana

Sebagai sahabat yang telah diajari sejumlah pengetahuan tulus mencintai, kuakhiri Jumatan tadi dengan doa khusus bagi Marwan. Kudoakan agar dia dan rekan lainnya mampu mengatasi SKD, kudoakan pula agar bersabar menerima fakta yang terlanjur kusembunyikan rapi terkait Mawar.

26 September 2016 nanti, kabar mengejutkan perjodohan Mawar dengan laki-laki pilihan keluarganya, pelan akan saya beberkan kepadanya, kemungkinan bersamaan dengan pengumuman prestasi hasil SKD nya.

18 September 2016

Nilai SKD Marwan?

Satu hari setelah Marwan menjalani SKD CASN 2016, kuhubungi dia berkali-kali, namun tak satu kali pun bisa tersambung. Kutemui beberapa karibnya, juga tak ada yang mengetahui jejaknya

Akhirnya kusengajakan diri mencarinya di tempat kami lazim menjemput pagi menguapkan kisah. Di sebuah warung sederhana pinggir jalan yang lusuh


Dia ternyata ada di sana, sementara duduk bersila, tak seperti gestur biasanya. Saat kudesak kucari tahu kabarnya, dia justru terdiam. Kugali informasi, benda apa yang erat dipegangnya, dia terlebih awal mengalihkan lembaran tsb ke belakang badan.

Saat kutanya nilai SKD Marwan, tiba-tiba dia sontak tersentak, menatapku dengan tajam, seakan ingin menenggelamkanku. Dengan gerakan spontan, lanjut berdiri gemetaran, bibirnya komat-kamit, seperti ada sesuatu yang dia lafadzkan.

Jari tangannya berenergi menunjuk ke langit, dalam sikap kuda-kuda, kakinya kokoh menancap ke bumi. Dia berteriak "Tuhan, aku meluas mendalam menyayanginya. Engkau kan memahami sendiri, yang telah menjadi tuan rumah hati ini hanyalah dia. Di semua tempat yang kupijak merupakan gravitasi kepadanya. Keberanianku menembus hutan belantara masa depan bersumber dari cahaya semangatnya. Aku yang awam ini terlempar ke sana kemari meneguhkan perasaan, melawan nyeri, menempuh sunyi, dan berani mencicil cita-cita demi untuknya."

Nampaknya Marwan sudah menjelang gila, saya bertanya Nilai SKD, jawabannya masih tentang Mawar...

19 September 2016

Lembaran di balik badan Marwan?

Dia terus saja memekik meronta, seperti ada makhluk lain yang merasukinya. Sesekali dia melompat frontal ke kiri dan ke kanan menyesuaikan dengan gelisah aspirasinya ke Tuhan

Karena gerakan yang tak karuan, lembaran yang awalnya dipegang erat di belakang badan, lolos dari genggamannya. Kurebut beberapa kertas tsb dari sapuan angin yang bisa saja menerbangkannya lebih jauh


Sulit kupahami isi dan maksudnya. Terlalu panjang narasi bahasa Indonesianya, pendalaman Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, Tata Negara, Hubungan Internasional, dan Sejarah Kebangsaan.

Sangat ribet intelegensi analoginya, wacana, deret bilangan, berhitung, menarik kesimpulan, hubungan analitis. Sampai ada pula yang kok sepertinya tak ada soal, tapi langsung meminta jawaban.

Beraneka ragam kerumitan simulasi kepribadian, integritas diri, kemampuan berprestasi, kreativitas dan inovasi, orientasi pada pelayanan, kemampuan beradaptasi, kemampuan mengendalikan diri, bekerja mandiri dan tuntas, bekerjasama dalam kelompok, menggerakkan dan mengkoordinir orang lain.

Bahkan adapula tambahan catatan Marwan di dalamnya berupa peristiwa terkini kopi sianida Jesica, kasus Gatot Brajamusti, dan transfer pemain La Liga musim 2016-2017. Aneh menariknya lagi, terselip juga artikel dan peta wilayah kabupaten yang didaftarinya, lengkap dari berbagai aspek; sejarah, keadaan wilayah, pemerintahan, kependudukan, sosial, ekonomi, komunikasi dan transportasi.

Karena saya tumpul mencerdasi itu semua, kubawa entitasnya dalam lingkar diskusi malam ini...

20 September 2016

Bukan sebatas alasan.

Semaksimal mungkin kami bersamamu Marwan. Sebab cinta di kedalaman jiwamu kepada Mawar dan sikap sosial mencintaimu kepada sesama telah lebih dari sekadar alasan.

#Marwan adalah nama lain dari pejuang marwah Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia..

21 September 2016

Jeda tak berarti reda. Tapi Marwan tetapLah menyetiai Mawar

Dia normal menekuni irama penantian, normal menempuh rute bersabar, normal menjelajahi gejala di luar kabar yang beredar. Agar apapun hasilnya, bisa berterima dengan normal pula

Itu perjuangan Marwan, tapi Mawar belum tentu. Mawar mulai dihimpit keraguan, prasangka tak beralasan, kesimpulan tak berkeutuhan. Mawar didesak tagihan kehidupan yang diyakininya mapan masa depan...

25 September 2016

Akut tak berarti takut.

Marwan dalam akut penantiannya kini mulai terbiasa mendendangkan Indonesia Pusaka.

Lagu itu pernah diajarkannya kepada Rinto, murid andalannya di lokasi pengabdian dulu. Satu hari setelah upacara bendera pertama di sekolah alang tsb terselenggara dengan sukses. Di bawah terik matahari dan dipimpin oleh pembina upacara yang telaten mengontrol gemetaran di sekujur tubuhnya. Kegiatan semakin apik, dengan tatanan barisan yang tertib dan seolah-olah provokatif. Peserta berderet berdasar menyesuaikan dengan tingkat keharuan yang bisa hadir, bagi siapa saja yang menyaksikannya; semakin tebal lumpur yang melekat di telapak kaki tak bersepatu itu, semakin kosong, gelisah, dan tak menentu tatapannya, maka dia berada di baris paling depan.

Masyarakat di pemukiman dingin tsb juga menjadi sasaran kerinduan Marwan. Masih membekas di telinganya, aspirasi orang tua dan warga sekolah agar sedemikian rupa dia dan rekannya berjuang mencerahkan sekaligus merawat pemikiran anak-anak mereka. Keperkasaan bapak, ibu dan remaja di sana dalam kesusahan bertahan hidup, dihimpit arus ekonomi yang tak berpihak, namun tetap bangga dan taat sebagai penduduk negeri ini.

Beberapa kali diskusi dan pertemuan diadakan untuk memagari metabolisme itu. Muncullah agenda Etos, Desa Mandiri Pendidikan Berbasis Gotong Royong, Elaborasi, pendampingan pemenuhan kebutuhan biaya dan sarana sekolah serta penumbuhan kultur partisipasi bersama.

Imbasnya, pendidikan yang terjadi waktu itu tidak hanya di dalam kelas, tapi bisa juga terlaksana dalam pondok yang didiami Marwan, saat menemani murid dan masyarakat berladang, kala menikmati senja di bukit teletubbies. Pun ketika perhelatan acara adat

Lalu, apa lagi alasanku untuk tidak terlibat akut menemani Marwan dalam menanti?...

25 September 2016

Malam minggu kali ini berbeda bagi Marwan, sebab malam-malam setelahnya bisa membalikkan keadaan. Saya tak bisa menahan Marwan mendalam menguapkan perasaannya di pinggir pantai ini;

"Tahukah kau, gemercik embun di pelataran pagi tak kunikmati merdu tanpa kehadiran resonansinya." Marwan mulai mendesakku agar menyimaknya

"Tahukah kau, saya betah menunggu di rangkaian halte ketidakpastian demi untuk menatap laju pesonannya. Tahukah kau, semesta pencarian jati diriku berhenti saat menelusuri kepribadiannya. Tahukah kau, semerbak wangi bunga tak lengkap sebelum menghirup rindu yang Mawar ciptakan."


"Sadarlah Mar, kita harus realistis menjalani proses" ucapku

"Apa yang tidak realistis dari semua ini?" Dia membantahku

"Saya menyayanginya dengan sungguh-sungguh. Saya menempuh proses maksimal untuk meyakinkannya. TIU, TWK, TKP kulahap habis-habisan tanpa peduli keterbatasan waktu yang tersedia dan portal passing grade yang bisa saja menjatuhkanku."

"Iya, saya percaya sekaligus bangga akan perjuanganmu. Tapi apa yang terjadi dengan Mawar sekarang di sana? Kapan terakhir dia menghubungimu, menjenguk sepimu? Di sudut mana dari dirimu yang menarik perhatiannya? Ingatkah kau, saat saya menemanimu mendatangi orang tuanya"

"Bertatapan penuh keyakinan dengan Bapaknya saja, kamu tunduk belum sanggup menerima keadaan dirimu. Saat kau ditanya latar belakang keluargamu, pekerjaan orang tua, keturunan dari mana, asal daerah? Kamu meresponsnya gugup bukan main"

"Belum lagi, waktu Ibunya menantangmu dengan komitmen membahagiakan masa depan Mawar, caramu sebagai laki-laki menjaganya? Jawabanmu jujur masih abstrak, mengada-ngada, dan jelas mengambang"

"Kamu tak bisa mengandalkan puisi dan kosata kata bersayap kebanggaanmu. Rumpun kesetiaan yang engkau himpun tak bisa menolongmu. Kamu tak masuk dalam kategori pencarian para mertua. Kamu tak diperhitungkan sebagai bilangan menguntungkan sanak familinya"

"Tapi saya kan sudah berusaha semampuku" Marwan memelas keras memegang kerah bajuku. Seperti ada yang ingin dikatakannya lagi, tapi tertahan bergantung hasil keputusan hari senin lusa...

25 September 2016

Mawar mengemas rasa, mungkin dia lelah

Dengan ditemani guyuran hujan malam ini, dia mulai merapikan pilihan foto Marwan ke dalam amplop besar warna coklat, kemudian dia ikat erat seakan tak ingin dibukanya kembali

Padahal foto tsb pernah bersandingan gagah dengan beberapa foto kesayangannya, ditaruhnya dalam posisi yang paling mudah dikaguminya tiap hari


Kenangan senandung soundtrack kebersamaan mereka dulu perlahan diasingkannya ke recycle bin. Tumpukkan kado ulang tahun yang diterima dari Marwan, dengan miris dibariskannya ke gudang paling belakang rumahnya.

Waktu tiap saat berlalu, sampai malam ini tak ada kabar menggembirakan dari Marwan. Tak dia temukan bukti keseriusan dari diksi manis yang sering Marwan umumkan. Mawar tak bisa lagi bersandar pada pundak janji yang rapuh dan tak pasti

Sementara keluarganya telah berkali-kali kedatangan para pemuda lain yang bertekad membahagiakan Mawar. Antriannya panjang tak bisa lagi dibendung, perawakan mereka meyakinkan, harus segera disetujui salah satunya...


26 September 2016
Walau tak bersama Mawar.

Marwan telah menerima informasi yang sangat dinantinya, perihal perhitungan hasil tes CASN. Dengan melalui berbagai argumentasi, pertimbangan, dan simulasi, terdengar kabar Marwan akhirnya diputuskan bisa lulus, begitupun sejumlah sahabat lainnya yang memenuhi syarat. Dia segera bergegas bermaksud mengabari Mawar, pujaan hatinya.

Tapi nasib cintanya tak semujur hasil ujiannya. Hari ini, sejak mereka bertarung syarat dan komitmen beberapa bulan lalu, Mawar tiba-tiba terlebih awal menghubunginya.


"Mar, keluargaku baru saja menerima lamaran (sebut saja dia Top). Dia bekerja sebagai juru mudi pelayaran pengangkut batu bara lintas negara."

"Tapi kan? Beri saya kesempatan satu kali lagi untuk bertemu dan meyakinkan ulang keluargamu. Sebentar lagi saya sudah memiliki pekerjaan, saya sanggup menafkahimu tiap saat, telah mampu menjadi apa yang menjadi kriteria orang tuamu." Marwan memotong pembicaraan Mawar, tegas mencoba memutar keadaan.

...Tak ada respons dari Mawar, sunyi kosong dari kejauhan. Ternyata telpon sejak tadi telah ditutupnya. Sesaat ketika dia baru saja menjelaskan identitas Top.

#Akhir kisah Marwan.
#SedihSatuSisi.

Oleh: Akhiruddin Haer
Koordinator Yayasan Masyarakat SM-3T Indonesia



loading...

0 Response to " Cerita Lengkap: Kisah Marwan dan Mawar "

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungannya di blog "Pak Pandani". Pertanyaan dan komentar silahkan tuliskan pada kotak komentar dibawah ini.