loading...

Kisah Guru SM-3T: Di Papua, Menimba Ilmu Bermodal Sebatang Lilin

loading...
Loading...
Listrik bagi masyarakat di perkotaan merupakan kebutuhan pokok. Tak heran, meski sebentar, padamnya listrik dianggap sangat menghambat aktivitas hingga membuat sebagian merasa kesal atau jengkel.

Berbeda di Distrik Oklip, Kabupaten Bintang, Papua, listrik dianggap sebagai sebuah kemewahan bagi masyarakatnya. Ketika malam datang, hanya sedikit warga yang dapat menikmati terangnya lampu. Pasalnya, di sana hanya ada dua alat untuk menyalakan lampu, yaitu genset dan panel surya, dan tidak semua masyarakat memilikinya.

Seorang guru dari Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, Tertinggal (SM-3T), Yogi Suwondo menceritakan, lilin menjadi modal utama untuk penerangan, termasuk bagi siswa yang ingin belajar. Menurut dia, keterbatasan fasilitas tersebut tak mengurangi semangat murid-muridnya untuk menimba ilmu.

"Mereka membeli lilin dan digunakan belajar bersama," tuturnya disitat dari laman UNY, Kamis (29/9/2016).

Yogi mengungkapkan, salah satu siswa bernama Asep cukup membuatnya berdecak kagum. Sepulang sekolah, Asep memiliki kewajiban membantu orangtuanya berkebun. Padahal, jarak kebun tersebut jauh dari perkampungan warga.

"Kegiatan yang dia lakukan adalah membersihkan dan menggarap lahan, menanaminya dengan ubi, mencabuti rumput sampai memanennya. Ketika pekerjaan di kebun dirasa cukup dia dan orangtuanya kembali ke rumah," ucapnya.

Tak hanya Yogi, sarjana SM-3T lainnya, Dwi Septiana, Yayuk Widyastuti dan Suraban juga merasakan hal yang sama. Sebab, saking semangatnya belajar, para siswa tersebut datang untuk meminta jam tambahan pelajaran walaupun hanya dengan cahaya lilin.

Foto: UNY

Cowok yang lahir di Jambi 21 Oktober 1989 tersebut menambahkan, sebenarnya siswa di sana tidak bodoh, hanya nasibnya kurang beruntung karena minimnya fasilitas pendidikan. Selain itu, mereka juga kekurangan guru.

"Bahkan siswa yang tinggal di pedalaman harus berangkat sekolah setelah subuh dengan berjalan kaki dan sampai di rumah pada malam harinya," ujarnya.

Dengan kondisi tersebut, Yogi berharap para pelajar di Papua tidak patah semangat untuk mengejar cita-citanya. "Walau hanya dengan sebatang lilin, siswa Papua bisa lebih maju dan menjadi generasi penerus bangsa yang lebih berkualitas dengan pendidikan. Semoga listrik segera masuk distrik Oklib," pungkasnya.

*sus/okezone
loading...
Loading...

0 Response to " Kisah Guru SM-3T: Di Papua, Menimba Ilmu Bermodal Sebatang Lilin "

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungannya di blog "Pak Pandani". Pertanyaan dan komentar silahkan tuliskan pada kotak komentar dibawah ini.