loading...

Inilah Pengalaman Supriyanto Mengajar di Perbatasan

loading...
Pak Pri, demikian sapaan akrab Supriyanto, M.Pd., guru mapel IPS SMPN 40 Surabaya. Sosok yang satu ini perawakannya nggak ndayani, istilah bahasa Jawa, tetapi begitu banyak prestasi yang telah diukirnya. Berkat nilai UKG 2015 yang diraihnya mencapai 95.3, sebagai nilai tertinggi untuk guru SMP se Provinsi Jawa Timur, membawanya sebagai wakil Provinsi Jawa Timur untuk acara KEMAH GURU DI WILAYAH PERBATASAN 2016, atau disingkat dengan KAWASAN 2016.

Kegiatan yang diprakarsai oleh Direktorat Sejarah Dirjen Kebudayaan Kemendikbud dilaksanakan pada 19 - 25 Agustus 2016, berlokasi di Kawasan Pantai Nemberella, Kecamatan Rote Barat Daya, Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur, dan berbatasan dengan Australia. Peserta kegiatan ini berasal dari Guru Mapel IPS SMP dan Mapel Sejarah SMA dari seluruh provinsi se Indonesia. Mereka yang lolos adalah hasil seleksi berdasarkan hasil UKG 2015, masing-masing provinsi mengirimkan satu guru IPS SMP dan satu guru Sejarah SMA.

Dalam satu kesempatan, Pri menuturkan bahwa selain presentasi dan dialog bersama Bupati Kabupaten Rote Ndao, Direktur Indonesia Mengajar, Sejarawan UI dan Undana, Komandan TNI AL di LANAL Rote, serta Direktur Sejarah Dirjen Kebudayaan Kemdikbud, para peserta juga mengikuti sesi dialog dengan tokoh PGRI, Guru Garis Depan, dan Budayawan Pulau Rote. Kesempatan yang langka, seluruh peserta KAWASAN 2016 diberikan kesempatan untuk mengajar di sekolah-sekolah yang ada di Rote Ndao. Pada kesempatan itu, para peserta menyumbangkan sejumlah buku bacaan yang dibawanya dari kota atau daerah masing-masing, imbuhnya.

Masih menurut Pri, bahwa dengan kegiatan KAWASAN 2016 diharapkan akan muncul kesadaran tetang masalah perbatasan. Kesadaran itu akan menghasilkan pemahaman sehingga diharapkan kita siap, dan dapat menjawab beberapa permasalahan yang khas terjadi di wilayah perbatasan. Misalnya tentang sengketa wilayah (garis) perbatasan , pelanggaran kedaulatan oleh negara asing , pencurian SDA, penyelundupan, perompakan, kondisi wilayah dan masyarakat perbatasan yang belum sejahtera (kemiskinan, kesehatan, pendidikan, budaya, tidak tersedianya infrastruktur yang memadai, krisis energi listrik, serta pencemaran lingkungan), pungkasnya.


Selain tugas utama yang sebagai guru IPS, sosok yang gampang akrab bila sudah dikenal ini, mendapatkan tugas tambahan sebagai IK (Instruktur Kota/Kabupaten) program Implementasi Kurikulum 2013 edisi revisi Tahun 2016. Dengan tambahan tugas tersebut tentu menuntut seorang Pri harus dapat membagi waktu antara mengajar siswa di sekolah sebagai kewajiban utamanya, dengan melaksanakan kegiatan IN dan ON untuk guru sasaran. Di samping ada tugas tambahan lain sebagai IK untuk program Implementasi K-2013 Sekolah Mandiri yang dilaksanakan Dispendik Kota Surabaya.

Adapun prestasi lain yang disabet Pri, di antaranya sebagai Peserta Terbaik Diklat Instruktur Nasional Guru Pembelajar Mapel IPS yang diselenggarakan oleh P4TK PKN IPS, membawanya pula sebagai Koordinator Mentor Moda Daring Kombinasi Mapel IPS SMP Kota Surabaya. Di samping prestasi awal yang pernah diraih sebagai satu di antara 40 guru IPS dan Ekonomi yang memeroleh Beawiswa S-2 dari Pemkot Surabaya Tahun Angaran 2013 untuk Kuliah di PPS Unesa Prodi Pendidikan Ekonomi, dan berhasil lulus dengan predikat Cum Laude ber-IPK 3,82. 

*Humas Dispendik Surabaya
Loading...
loading...

1 Response to " Inilah Pengalaman Supriyanto Mengajar di Perbatasan "

Terima kasih atas kunjungannya di blog "Pak Pandani". Pertanyaan dan komentar silahkan tuliskan pada kotak komentar dibawah ini.