loading...

Kisah Pengabdian Madang, Sang Guru SD di Pedalaman Mahakam Hulu Kalimantan

loading...
Ovianus Madang (25) menyeka keringat di dahinya. Siang itu sungguh terik, saat dia baru saja tiba di rumahnya, di Data Isun Lama, sebuah kampung di Long Isun, Kecamatan Long Pahangai, Kabupaten Mahakam Hulu, Kalimantan Timur.

Ovianus yang hanya lulusan SMA Barong Tongkok, Kutai Barat ini baru saja usai menutup ruang-ruang kelas di SD 004 Filial Long Isun. Empat tahun sudah rutinitas itu dia jalani, sebagai guru PPT di satu-satunya bangunan sekolah di kampung itu.

"Tak ada yang mau mengajar di sini, dan saya berani mengajukan diri, karena kasihan anak-anak di Isun Lama jika tidak ada yang menjadi guru bagi mereka," tutur Ovianus, pekan lalu saat Kompas.com bertandang di salah satu kampung di pedalaman Kalimantan Timur itu.

Sebelum sekolah dasar filial itu dibangun, anak-anak dari Isun Lama harus menyeberang dengan ces (sampan khas Dayak) sekitar 30 menit, membelah aliran sungai Mahakam ke Datang Suling, tempat SD 004 Long Isun berada.

Tentu kondisi itu memberatkan anak-anak apalagi yang masih duduk di bangku kelas 1 hingga kelas 4. Warga Isun Lama kemudian berembuk mencari jalan keluar, hingga kemudian mereka secara swadaya mendirikan bangunan sekolah yang sederhana.

Bangunan itu dari bahan kayu dan papan. Persoalan muncul, karena sulit mencari guru yang bisa tinggal secara menetap di sana. Sementara guru di SDN 004 Long Isun juga terbatas.

Mendengar kondisi itu, Ovianus tergerak hati lalu bersedia mengabdi untuk anak-anak di Isun Lama.

"Saya sebenarnya bercita-cita menjadi polisi. Tapi ini lebih penting, saya orang asli di sini, dan merasa ikut bertanggungjawab dengan masa depan anak-anak ini. Kasihan mereka jika tidak ada yang mengajar," kata Ovianus.

Dengan bekal ilmu pengetahuan yang dia dapat sewaktu duduk di bangku SMA, Ovianus kemudian menjadi guru tunggal bagi murid-murid di SD 004 Filial Long Isun. Empat kelas sekaligus!

"Tahun ini saya mengajar kelas 1, kelas 3 dan kelas 4. Kebetulan untuk kelas 2 tidak ada muridnya. Ya, saya harus membagi waktu agar bisa menghandel semua kelas," jelas Ovianus.

Beruntung beberapa bulan terakhir, pekerjaannya terbantukan karena Liling (24), yang juga lulusan SMA, bersedia menjadi guru bantu mendampingi Ovianus.

Pengabdian tulus Ovianus dan Lilin tanpa pamrih. Akses transportasi yang susah dan mahal ke wilayah hulu di Kalimantan Timur itu menjadikan kebutuhan pokok berada di atas harga normal.

Apalagi jika permukaan sungai Mahakam surut, dan distribusi barang dari Samarinda tersendat. Harga kebutuhan pokok bisa menjadi empat kali lipat dari harga semula.

"Kami menerima gaji tiga bulan sekali, dan kadang lebih lama dari itu. Tergantung bendahara sekolah di Long Isun pergi mengambil gaji di kabupaten," ujar Ovianus.

Namun ketersendatan gaji itu tidak sekalipun menyurutkan niat tulus pengabdian Ovianus. "Jika sudah melihat wajah ceria anak-anak, saya jadi terus bersemangat," tegasnya.

Bahkan sering Ovianus malah menanggulangi kebutuhan sekolah dari pendapatannya yang tidak seberapa itu. Dia kadangkala, harus berhutang dari warung ibunya untuk menalangi kebutuhan sekolah.

"Ya, nanti dibayarkan kalau gaji sudah terima," kata Ovianus sambil tersenyum.

Ovianus dan Liling terus bertekad memberikan yang terbaik bagi seluruh murid yang mereka bina, agar masa depan mereka cerah. Mereka tak ingin, anak-anak suku Dayak ini tertinggal dalam ilmu pengetahuan.


"Kami memang bermimpi ada bantuan berupa paket buku dan peralatan sekolah agar proses belajar mengajar di sini bisa lebih layak lagi. Bagi kami, melihat anak-anak bisa mencerna seluruh pelajaran dan tidak tertinggal dari anak-anak Indonesia lainnya, sudah lebih dari cukup," harap Ovianus.

Kini, walau terkendala dalam hal komunikasi dan akses transportasi, Ovianus mencoba meraih gelar sarjana lewat kuliah di Universitas Terbuka.

Dinas Pendidikan Kabupaten Mahakam Hulu memberi syarat kepadanya, jika ingin menjadi PNS, dia harus menjadi sarjana.

"Kadang tidak tega meninggalkan anak-anak, saat saya harus pergi mengambil modul kuliah, karena itu butuh beberapa hari dalam perjalanan," kata Ovianus.

*Ronny Adolof Buol/Aprillia/KOMPAS
Loading...
loading...

0 Response to " Kisah Pengabdian Madang, Sang Guru SD di Pedalaman Mahakam Hulu Kalimantan "

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungannya di blog "Pak Pandani". Pertanyaan dan komentar silahkan tuliskan pada kotak komentar dibawah ini.