loading...

Nasib Guru "Lillahi Taala" di Pedalaman Aceh

loading...
Hari Guru Nasional diperingati dengan cara beragam di Tanah Air, Jumat (25/11/2016). Namun, tidak demikian yang terjadi di SMP Negeri 5 Langkahan, pedalaman Aceh Utara.

Sekolah di Desa Tanah Mirah, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, itu hanya memiliki 14 guru. Namun, yang "diakui" oleh pemerintah setempat hanya lima orang.

Ada tiga guru berstatus pegawai negeri sipil dan dua guru berstatus honorer murni Pemerintah Kabupaten Aceh Utara.

Guru lainnya dikenal dengan sebutan guru lillahi taala. Sebutan itu khusus untuk guru yang tidak memiliki gaji tetap. Mereka hanya mendapatkan upah jerih sekadarnya dari pihak sekolah.

Jarak sekolah ini sekitar 20 kilometer dari ibu kota Kecamatan Keudee Langkahan. Perjalanan ke sana ditempuh dengan melintasi jalan berdebu, mendaki, terkadang berlumpur.

"Di sini, kami mengajar 115 pelajar dari berbagai desa pedalaman, seperti Desa Tanah Mirah, Leubok Pusaka, Pante Bidari, dan desa lainnya," kata Khaidir Rasyid, salah seorang guru PNS di SMP Negeri 5 Langkahan, kepada Kompas.com, Jumat (25/11/2016).

Sekolah itu hanya memiliki tiga ruang kelas. Tidak ada penambahan gedung dari Pemkab Aceh Utara sejak sekolah itu dibangun pada 2007.

Khaidir yang menjabat Sekretaris Ikatan Guru Indonesia (IGI) Aceh Utara mengatakan, butuh perhatian khusus untuk sekolah pedalaman itu.

"Kami butuh tambahan guru pegawai negeri. Jika tak ada, bolehlah guru yang lillahi taala ini diangkat menjadi guru honor Pemerintah Aceh Utara agar kesejahteraan guru pedalaman ini juga membaik," kata dia.


Guru honorer di sana digaji Rp 350.000 per bulan. Adapun guru tak tetap memperoleh pendapatan tak menentu.

"Jika ada uang dari sekolah, ya diberikan. Jika tidak, maka ya tidak diberikan," kata Khaidir.

Pelajar sekolah itu umumnya berasal dari keluarga kurang mampu. Mereka terpaksa berjuang menyeberangi sungai terusan Krueng Arakundo untuk mencapai sekolah itu.

"Sebagian pelajar kami menyeberangi sungai dengan menggunakan perahu kecil. Orang sini menyebutnya getek. Sungguh penuh keterbatasan," ujar Khaidir.

Di Hari Guru Nasional ini, dia berharap agar kesejahteraan guru pedalaman terus ditingkatkan. Setidaknya para guru bisa hidup berkecukupan.

*Kopmpas/Masriadi
loading...
loading...

0 Response to " Nasib Guru "Lillahi Taala" di Pedalaman Aceh "

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungannya di blog "Pak Pandani". Pertanyaan dan komentar silahkan tuliskan pada kotak komentar dibawah ini.