Guru Garis Depan Mengabdi untuk Pendidikan di Daerah Khusus

loading...
Guru Garis Depan semangat mengajar terlepas dari keterbatasan kondisi di dalam kelas
Negara harus hadir dalam mengatasi masalah-masalah besar bangsa ini. 

Sejak tahun 2015, Kemendikbud berusaha mewujudkan kehadiran negara dalam bidang pendidikan di daerah 3T (Terluar, Terdepan, Tertinggal). Upaya ini bukan hanya dalam bentuk pemberian bantuan kebutuhan sekolah dan perbaikan infrastruktur. Lewat program Guru Garis Depan (GGD), negara juga berusaha menyediakan dan meningkatkan kualitas pengajar di daerah 3T. 

Sesuai semangat Nawacita, program GGD adalah program prioritas pemerintah dan program afirmasi Kemendikbud dalam rangka “membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia”. Program ini bertujuan meningkatkan kualitas pendidikan anak-anak Indonesia lewat upaya memberikan layanan pendidikan, mengatasi kekurangan guru, dan pemerataan pendidikan di seluruh wilayah Indonesia. Dalam penempatannya nanti, para guru yang mengikuti program GGD diharapkan dapat menjadi agen perubahan di tengah masyarakat.

Pada tahun 2015, Kemendikbud mengirimkan angkatan pertama GGD yang berjumlah  779 orang. Mereka merupakan hasil seleksi dan berasal dari kalangan alumni Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM-3T). Mereka telah lulus Pendidikan Profesi Guru (PPG)  dan menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Formasi GGD ini disahkan dengan penerbitan Permenpan-RB Nomor 26 Tahun 2014 tentang Formasi Khusus ASN Kementerian/Lembaga Tahun Anggaran 2014 dan Keputusan Menteri PAN-RB No. 762 Tahun 2014 tentang formasi PNS untuk SM-3T. Sejumlah 779 GGD ini ditempatkan di 28 Kabupaten yang tersebar di empat provinsi: Nusa Tenggara Timur, Papua, Papua Barat, dan Aceh.

 “Saudara-saudara semuanya adalah pejuang karena yang dituju adalah tempat-tempat yang sulit, terpencil, dan lokasi terluar,” ujar  Presiden Joko Widodo saat menerima GGD angkatan pertama pada 25 Mei 2015 di Istana Merdeka. 

Untuk menghargai kerja keras para ‘pejuang’ ini, pada perayaan Penutupan Bulan Pendidikan dan Kebudayaan, 29 Mei 2016, sebanyak 56 GGD terbaik diminta untuk hadir dan membagikan pengalamannya di depan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. 

Banyak pengalaman unik yang diceritakan para GGD ini. Salah satunya adalah Andi Halifah yang mengajar di SMAN 2 Serui. Dengan keterbatasan yang ada, Guru Fisika asal Makassar ini sangat kreatif membuat bahan ajar dari lingkungan sekitar. 

“Di sini sangat alami, kami harus membuat bahan ajar sesuai dengan daerahnya”, ujarnya. 

Walhasil, Andi sering menerima keluhan dari murid kelas lain yang tidak diajarnya karena iri. “Kemarin baru saja saya membuat materi tentang alat optik, murid kelas lain langsung pada bertanya kenapa mereka tidak diajar juga, “ ujar Andi.

Lokasi yang berada di daerah 3T tidak membuat Andi patah semangat dalam mencari ilmu dan informasi baru. Andi sering mencari informasi di internet, mendengarkan radio dan menggunakan Instagram untuk memperbarui informasi. Tidak hanya sekedar mengajar, Andi juga terus berkontribusi 
mengembangkan daerah penempatannya. Sepulang sekolah, Andi bersama rekan-rekan GGD di desa tersebut juga membuka bimbingan belajar untuk membuka kesempatan bagi anak-anak lain yang mengalami kesulitan belajar di sekolah.Hal yang sama juga dialami oleh Irfan Dani yang ditempatkan di SMA 1 Labuan Haji, Aceh Selatan. Pria asal Padang, Sumatera Barat yang akrab disapa Pandani ini mengajar pelajaran Biologi. Tapi yang membuatnya menjadi guru favorit di SMA 1 Labuan Haji adalah keaktifannya dalam program ekstrakurikuler sekolah. Pandani aktif menjadi pembina Pramuka, PMR, dan komputer. Program ekstra kurikuler komputer adalah program yang dibentuk atas inisiatifnya sendiri. Pandani membuka ekstrakurikuler komputer yang tidak hanya diikuti oleh siswa tetapi juga kepala sekolah dan rekan-rekan guru lainnya. 

“Guru-guru justru banyak yang gagap teknologi, makanya mereka senang sekali,” ujarnya. Tidak hanya itu,  Pandani aktif membuat blog dan membagikan bahan ajarnya secara daring. Ia terinspirasi dari keluhan rekan-rekan guru yang kesulitan membuat soal dan bahan ajar. “Karena saya sering buat bahan ajar sendiri, daripada hanya terpakai oleh saya maka saya bagikan juga dalam blog saya,” 
cerita Pandani.

Semangat para GGD ini berlanjut pada tahun 2016 dengan membuka kembali kesempatan bagi pemuda-pemuda terbaik Indonesia. Mereka dapat berpartisipasi dalam meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia dengan menjadi guru yang berkomitmen ditempatkan di daerah 3T. Pada tahun 2016,  Kemendikbud kembali mengirimkan 7.000 GGD ke daerah 3T. Calon peserta GGD juga lebih beragam yaitu selain berasal dari SM-3T yang telah mengikuti program PPG, calon peserta juga 
berasal dari: 
  1. PPG S1 PGSD Berasrama yaitu program S1 PGSD yang terintegrasi dengan program PPG yang pesertanya merupakan lulusan SMA atau D2 dari daerah 3T; 
  2. SMK Kolaboratif merupakan penyiapan guru SMK mata pelajaran produktif yang tidak dihasilkan oleh LPTK, input PPG kolaboratif lulusan S-1/D-IV kejuruan/keteknikan yang berasal dari Non-LPTK yang pelaksanaan PPG nya berkolaborasi antara perguruan tinggi non-LPTK dengan LPTK yang ditunjuk;  
  3. S-1 Basic Science Berasrama yaitu penyiapan guru sains profesional yang inputnya adalah lulusan SMA dari daerah 3T yang kuliah S-1 Sains pada Perguruan Tinggi nonkependidikan yang setelah lulus mengikuti program PPG pada LPTK yang ditunjuk; 
Sebanyak 7.000 formasi tersedia ini berasal dari 93 Kabupaten yang tersebar di 29 Provinsi di Indonesia. Hal ini juga menunjukkan komitmen Kemendikbud untuk terus meningkatkan kualitas sumber daya manusia lewat pendidikan di daerah 3T. Kenaikan formasi juga disambut baik oleh Pemerintah Daerah yang memiliki antusiasme tinggi dalam pemenuhan kebutuhan guru di daerah mereka. Keberagaman sumber daya GGD ini juga merupakan respon Kemendikbud terhadap niat putra-putri Indonesia untuk berbakti kepada negara. 

Guru GGD dengan kreatif menggunakan sumber daya di sekitar sekolah dalam mengajar

Peningkatan jumlah 
GGD yang hampir sepuluh kali lipat ini merupakan komitmenkuat negara untuk hadir di setiap daerah di Indonesia
Tidak semua peserta yang mendaftar bisa diterima menjadi GGD. Hanya orang-orang 
terpilih yang lolos seleksi yang bisa ditetapkan menjadi GGD. Pada tahun 2016, seleksi GGD dilaksanakan pada tanggal 15-18 September. Tes dilaksanakan secara komputerisasi dan serentak di 107 Tempat Uji Kompetensi (TUK) yang tersebar di 34 Provinsi Indonesia.  Selain agar pelaksanaannya bisa cepat, mekanisme ini juga dilakukan sebagai salah satu upaya bagi calon peserta agar tidak melakukan kecurangan sehingga benar-benar guru terbaiklah ang akan dipilih.  Setelah lolos 
seleksi, para GGD ini akan melalui proses pembekalan. Para GGD ini akan diberikan informasi secara mendalam tentang daerah penempatan mereka, sehingga diharapkan bisa cepat beradaptasi dengan lingkungan tempat mereka akan mengajar.

Peningkatan jumlah GGD yang hampir sepuluh kali lipat ini merupakan komitmen kuat negara untuk hadir di setiap daerah di Indonesia. Peningkatan jumlah GGD diharapkan sejalan dengan peningkatan kualitas pendidikan di daerah 3T. Selain itu diharapkan kehadiran GGD ini bisa menjadi inspirasi bagi para siswa meraih sukses dalam bidang pendidikan. Para GGD juga diharapkan menjadi motor untuk terus bertukar-pikiran meningkatkan kualitas pembelajaran di antara rekan guru di sekolah maupun di daerah penempatan GGD. Sebagai salah satu sarana pemersatu Bangsa Indonesia, penempatan GGD membuktikan bahwa putra-putri Indonesia yang berkualitas memang siap ditempatkan di mana pun dan siap menjadi roda penggerak pembangunan di daerah. 

Sumber: KILASAN KINERJA 2016 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
loading...

0 Response to " Guru Garis Depan Mengabdi untuk Pendidikan di Daerah Khusus "

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungannya di blog "Pak Pandani". Pertanyaan dan komentar silahkan tuliskan pada kotak komentar dibawah ini.