Apa itu "Skip Challenge" dan Bahayanya Bagi Tubuh Manusia

loading...

Sepekan ini, tren permainan baru di kalangan remaja Skip Challenge merebak di media sosial. Permainan yang juga dikenal dengan nama pass out challenge ini viral dalam waktu cepat.

Sejumlah video di media sosial seperti facebook, instagram dan youtube mempertontonkan video siswa yang tengah melakukan tantangan tersebut. Tagar #skipchallenge kian meluas. Akibatnya, siswa sebagai pengguna aktif media sosial ikut tertantang melakukan permainan ini.

Apa sebenarnya Skip Challenge? Tantangan ini dilakukan dengan cara menekan dada sekeras-kerasnya selama beberapa waktu sehingga menyebabkan pelakunya pingsan kemudian kejang. Banyak remaja menganggap bahwa aktivitas tersebut merupakan pengalaman yang menegangkan dan menyenangkan.

Dalam beberapa video bahkan para remaja yang melihat kawannya pingsan justru tertawa terbahak-bahak seolah-olah melihat pertunjukkan seru. Padahal, tak disadari oleh mereka, permainan yang telah dilakukan oleh mereka itu membahayakan kawannya. Tak hanya pingsan, permainan tersebut bahkan mengancam nyawa yang melakukannya hingga menyebabkan kematian.

Di Amerika Serikat, permainan ini sudah mendapat perhatian khusus sejak tahun 2008. Hal tersebut karena sejumlah remaja melakukan permainan ini dan menyebabkan kematian.

Dikutip dari http://www.gaspinfo.com, rekaman nyata 911 menyebutkan bahwa seorang anak tewas di kamar tidurnya setelah bermain Choking Game atau Skip Challenge ini.

Masih berdasarkan data di situs tersebut, bahaya permainan Skip Challenge juga ditemukan di Kanada. Banyak anak-anak yang meninggal setelah melakukan permainan tersebut.


Seorang profesor pediatri di University of British Columbia, Dr. Andrew MacNab mempelajari fenomena ini di Kanada dan melakukan survey di sekolah-sekolah di Ontario dan Texas, yang menemukan bahwa 68 persen anak-anak sekitar usia 12 tahun telah mengetahui dan melakukan permainan Skip Challenge ini.

Melihat bahayanya dari permaianan ini, GASP (Game Adolescents Shouldn’t Play), sebuah lembaga non profit yang didirikan untuk menghentikan permainan Choking Game ini, membentuk tim relawan yang terus mengampanyekan tentang bahaya permainan tersebut.

Salah satunya yakni Scot Metheny, seorang perwira polisi dari Pennsylvania. Menurut Metheny, hampir semua anak mengetahui hal ini sebagai permainan yang menyenangkan, bukan mematikan.

”Ketika mereka melihat teman mereka kejang di lantai, mereka pikir itu lucu dan mereka pikir aman. Mereka tidak menyadari bahwa teman mereka mengalami kejang dan sel-sel otak mereka tengah sekarat. Mereka juga tidak menyadari bahwa permainan ini lebih berbahaya daripada Russian roulette. Kita harus memberitahu mereka bahwa permainan ini tidak layak,” kata Metheny.

Apa yang sebenarnya terjadi ketika seseorang memainkan skip challenge? Dijelaskan dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari Rumah Sakit Harapan Kita, Yoga Yuniadi, seperti dikutip dari http://health.kompas.com, proses penekanan pada dada dalam waktu beberapa saat itu berujung pada menurunnya kadar oksigen dalam darah atau disebut hipoksia.



”Berdasarkan video, yang terjadi adalah penekanan dada yang cukup keras untuk menghalangi upaya napas, tapi tidak cukup keras untuk mengubah pola denyut jantung. Akibatnya kadar oksigen darah menurun,” jelas Yoga.

Ketika seseorang mengalami hipoksia, organ tubuh yang pertama kali akan terdampak yakni bagian otak. Kekurangan oksigen di bagian otak itulah yang menyebabkan penurunan kesadaran atau pingsan hingga kejang.

”Akibat fatalnya, hipoksia bisa menyebabkan kerusakan otak. Bila terjadi hingga 4 menit akan menyebabkan kerusakan otak yang bersifat permanen,” tambah Yoga.


Mendikbud Larang Keras
Melihat bahayanya permainan tersebut, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy melarang para siswa melakukan tantangan semacam itu.

Mendikbud dalam siara pers nya mengimbau para guru dan kepala sekolah memberikan perhatian khusus terhadap aktivitas siswa di lingkungan sekolah.

”Permainan Skip Challenge sangat berbahaya bagi siswa, dan ini harus diberikan larangan keras. Guru dan Kepala Sekolah perlu memberikan perhatian terhadap aktivitas siswa di lingkungan sekolah,” disampaikan dengan tegas oleh Mendikbud, pekan lalu di Bandung, Jawa Barat.

Ditegaskan Mendikbud, permainan tersebut perlu dipahami siswa sebagai permainan yang sangat membahayakan jiwa siswa, baik jangka pendek ataupun jangka panjang. ”Apa yang dilakukan sewaktu muda, akan memberikan dampak saat sudah tua. permainan tersebut sangat membahayakan, dan akan berdampak buruk bagi kesehatan siswa,” jelasnya.

Mendikbud berharap para siswa di bawah bimbingan guru dan kepala sekolah tidak melakukan tindakan berbahaya dan mengancam masa depan. ”Lakukan aktivitas yang positif dalam mengekspresikan diri. Aktivitas siswa saat-saat jam istirahat dan jam pulang sekolah perlu menjadi perhatian sekolah. Aktivitas yang membahayakan harus segera dihentikan,” pesa Mendikbud.

Partisipasi orang tua dan lingkungan sekitar untuk mengawasi anak-anak dalam melakukan aktivitas juga sangat penting dilakukan.

Mendikbud mengajak orang tua dapat lebih aktif berkomunikasi tentang aktivitas anak-anaknya. Peran orang tua juga dapat memberikan pemahaman tentang resiko aktivitas berbahaya seperti Skip Challenge ini.

Sumber: http://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id
loading...

0 Response to " Apa itu "Skip Challenge" dan Bahayanya Bagi Tubuh Manusia "

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungannya di blog "Pak Pandani". Pertanyaan dan komentar silahkan tuliskan pada kotak komentar dibawah ini.