Waduh! Guru di Makassar Dipaksa Coding untuk Bikin Aplikasi


Sejumlah guru di Makassar mulai menerapkan aplikasi digital untuk kegiatan ajar di ruang sekolah. Setiap guru dituntut membuat aplikasi sendiri sebagai bahan belajar mereka.

'Sagusanov' merupakan salah satu contoh program yang memaksa para guru yang tergabung di Ikatan Guru Indonesia (IGI) membuat aplikasi mobile. Diambil dari singkatan 'satu guru satu inovasi', program ini memaksa guru di sana mengonversi bahan ajarnya ke bentuk aplikasi digital.

Hampir setiap mata pelajaran yang diajarkan para guru IGI sudah beralih ke bentuk format aplikasi mobile. Mulai dari sejarah, fisika, bahasa, hingga matematika sudah tersedia secara digital di Play Store.

Ketua Umum IGI Muhammad Ramli Rahim menyebut adopsi aplikasi digital diperlukan untuk mengakali rasa bosan siswa di kelas akibat cara ajar yang kuno. Menurutnya, tak sedikit guru yang masih memakai gaya konservatif untuk menyampaikan bahan ajar.

"Saya pernah mendengar guru yang memakai ranting atau buah-buahan untuk mengajar berhitung," kata Ramli di Makassar, Selasa (28/2).

Ramli prihatin sejumlah guru tak bisa memanfaatkan perangkat digital sebagai alat ajar. Padahal saat ini keberadaan perangkat digital dan internet jauh lebih terjangkau dibanding 5-10 tahun silam.

Kompetensi guru, menurut Ramli, merupakan syarat paling dasar mutu pendidikan. Namun, soal pemanfaatan teknologi, para siswa justru jauh lebih mahir memanfaatkan perangkat digital ketimbang gurunya. Alhasil, sang guru tak bisa memberikan contoh penggunaan gadget yang baik atau menggunakannya sebagai medium baru pengajaran ke siswa.

Dalam program Sagusanov, guru yang tidak berlatar belakang ilmu komputer akan diajarkan materi coding oleh para pelatih IGI.

"Aplikasi itu semua yang bikin para guru sendiri," imbuh Ramli.

Ada sekitar 575 pelatih yang IGI sediakan untuk semua guru di seluruh nusantara. Materi yang diajarkan kepada guru benar-benar dari nol.

Bahkan menurut Ramli, sebelum belajar coding, para guru masih banyak yang kesulitan mengoperasikan perangkat tablet.

"Sering ditemui guru yang mengaku punya akun Facebook tapi ketika ditanya apakah mereka punya akun email mereka bilang tidak ada," tutur Ramli.

Dengan aplikasi tersebut, materi pelajaran berbentuk buku fisik bukan lagi jadi pegangan utama murid. Aplikasi yang tersedia di Play Store ini jjuga mempermudah para murid mengakses pelajarannya ke perangkat masing-masing.

Menggandeng Samsung Electronics Indonesia, IGI menargetkan pelatihan bagi 26 ribu guru di Makassar dan 500 ribu guru di seluruh nusantara. Target pelatihannya merentang dari guru sekolah dasar hingga guru sekolah menengah.

Sumber: cnnindonesia
loading...

0 Response to " Waduh! Guru di Makassar Dipaksa Coding untuk Bikin Aplikasi "

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungannya di blog "Pak Pandani". Pertanyaan dan komentar silahkan tuliskan pada kotak komentar dibawah ini.