loading...

Belajar Kerukunan di Tapal Batas RI-Timor Leste

loading...

ATAMBUA – Kerukunan antarkelompok masyarakat bakal tetap dibutuhkan oleh Indonesia, negara yang terdiri dari beragam identitas golongan. Kabupaten Belu menunjukkan dirinya sebagai kawasan Indonesia yang bisa menjaga kerukunan.

“Belajar rukun itu di Belu,” ujar Wakil Bupati, JT Ose Luan, saat berbincang dengan detikcom di Kantor Kabupaten, Jl Basuki Rahmat, Atambua, Belu, Nusa Tenggara Timur, Rabu (29/3/2017).

Kabupaten Belu merupakan wilayah Nusa Tenggara Timur yang berbatasan dengan Republik Demokratik Timor Leste. Ada empat suku dominan berdasarkan tuturan bahasa yang ada di sini, yakni Tetun, Bunak, Kemak, dan Dawan.

Ditambah lagi dalam proporsi lebih kecil, ada Suku Bajo, Bugis, Jawa, dan Tionghoa di sini. “Keragaman itu kekayaan. Kami menghormati itu secara baik,” kata Ose Luan.

Dia mengatakan selama ini toleransi di wilayahnya terjaga dengan baik. Tak ada konflik atau isu menonjol berlatar belakang kebencian Suku Agama Ras dan Antargolongan (SARA).

“Kalau agama, kami hidup rukun,” kata dia.

Dia menyarankan agar semua masyarakat belajar soal kerukunan dari Belu. Di sini dia menjamin, minoritas umat beragama bakal dijaga hidupnya sehingga merasa benar-benar aman. Mayoritas penduduk di sini beragama Katholik, namun sikap toleran dikedepankan kepada umat agama yang berlainan.

“Kalau ada kacau di mana, saudara-saudara kami yang Muslim tidak perlu lari, karena kami akan menjadi benteng untuk melindungi dan membela mereka. Demikian juga mereka (sebaliknya),” ujar Ose Luan.

Dia sadar betul Belu adalah kawasan terdepan Indonesia. Warga harus merasakan keamanan secara nyata, dengan demikian warga bakal merasa yakin dengan negaranya sendiri secara psikologis. Meski sampai saat ini suasana relasi sosial-budaya terasa baik-baik saja, namun kewaspadaan tak dikendurkan.

“Kami punya kewaspadaan tersendiri. Karena bisa saja kami yang begini rukun ini sekali waktu dikacaukan oleh kepentingan-kepentingan bangsa lain, ataupun kepentingan-kepentingan mereka yang ada di Indonesia ini yang ingin merusak dan memporak-porandakan pemerintah Indonesia,” tutur Ose Luan.

Penerimaan terhadap pendatang disebutnya berjalan dengan harmonis. Misalnya, hubungan masyarakat lokal dengan personel TNI atau dengan guru-guru dari luar Nusa Tenggara Timur.

Ada program Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM3T) dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Guru-guru berlatar belakang sama sekali berbeda datang ke pelosok Belu lewat program itu, mengajar setahun di tempat baru. Tak jarang, guru itu menjadi muslim satu-satunya di tengah masyarakat.

“Kami berpesan ke para kepala desa yang menerima agar hormatilah mereka (guru) itu. Misalnya kalau mau sembelih ayam, ya adik-adik (guru) yang sembelih, karena seorang Muslim harus dia yang sembelih,” tutur Ose Luan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), 2014-2015 yang bersumber dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Belu, dari 201.973 jiwa penduduk Belu, ada 181.518 orang beragama Kristen Katholik, 13.511 orang Kristen Protestan, dan 6.358 orang Islam.

Ada pula pemeluk agama Hindu sebanyak 5336 orang dan Budha 23 orang. Mengenai tempat ibadah, ada 129 gereja Katholik, 22 gereja Protestan, 11 masjid, 1 surau, dan 2 pura.

Belu sendiri barangkali sudah sejak dari awal punya sikap menerima pendatang dengan tangan terbuka. Bahkan ada legenda yang menyebutkan kebanyakan penduduk Belu saat ini juga merupakan pendatang yang kemudian kawin-mawin dengan suku asli, yakni Suku Melus/Meleus.

Suku Melus ini, menurut legenda yang dituturkan, dikenal sebagai ‘manusia penghuni batu dan kayu’, atau dalam bahasa lokal disebut ‘Emafatuk Oan Ema Ai Oan’. Postur tubuhnya kuat, kekar, dan pendek, ada pula tuturan bahwa Suku Melus ini punya warna kulit yang agak kemerahan.

Penduduk Belu sekarang dipercaya merupakan anak turun ‘Sina Mutin Malaka’ pada zaman dahulu kala. Makna ‘Sina Mutin Malaka’ ini sebenarnya juga tidak pasti benar, banyak yang mengartikan sebagai ‘Cina Putih Malaka’, namun entah Malaka di semenanjung Melayu atau Malaka di selatan Belu (sekarang Kabupaten Malaka). Para Sina Mutin Malaka ini berlayar melewati Larantuka hingga sampai ke Belu.

Mereka kemudian bercampur dan juga mendesak Suku Melus. Terlepas dari legenda zaman dulu itu, penampilan warga Belu di era kini kebanyakan berkulit cokelat gelap, rambut lurus atau setidaknya ikal, sebagian lain berambut keriting.

Kata ‘belu’ dalam Bahasa Tetun berarti ‘sahabat’ dalam Bahasa Indonesia. Bahasa yang dominan di sini adalah Tetun, digolongkan para ahli dalam rumpun bahasa Austronesia yang memang menyebar di kawasan ‘bumi tengah’ Asia-Pasifik, termasuk dalam rumpun ini adalah Bahasa Jawa, Tagalog, Melayu, Malagasy (Madagaskar), bahasa suku asli Taiwan, sampai bahasa orang Hawaii.

Termasuk Bahasa Dawan dan Kemak juga dituturkan di Belu ini. Ada juga Bahasa Bunak di sini. Bahasa Bunak tidak digolongkan para ahli dalam rumpun Austronesia, melainkan rumpun Bahasa Papua. 

Sumber: http://www.nttsatu.com/belajar-kerukunan-di-tapal-batas-ri-timor-leste/
Loading...
loading...

0 Response to " Belajar Kerukunan di Tapal Batas RI-Timor Leste "

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungannya di blog "Pak Pandani". Pertanyaan dan komentar silahkan tuliskan pada kotak komentar dibawah ini.