loading...

Sisi Lain Dibalik Hardiknas: Kisah Guru SM-3T di Asmat Papua

loading...

Setiap tanggal 2 Mei diperingati sebagai momentum Hari Pendidikan Nasional. Peringatan Hari Pendidikan Nasional atau Hardiknas itu sendiri sengaja dilakukan pemerintah Indonesia untuk memperingati kelahiran Ki Hadjar Dewantaro. Ia adalah tokoh pelopor pendidikan di Indonesia dan pendiri lembaga pendidikan Taman Siswa.

Sisi lain dibalik Hardiknas tersebut, terdapat kisah lain dari sekolah dan guru-guru yang berada di wilayah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (3T) Indonesia.

Namanya Yuda Bimantara, ia adalah pemuda lulusan Universitas Lampung yang menjadi pengajar SM3T (Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal). Ia saat ini menjadi pengajar SM3T di SMP N 1 Sawa Erma, Distrik Sawa Erma Kabupaten Asmat, Papua.

Menurutnya, sangat terlihat jelas perbedaan kondisi pendidikan di pedalaman Asmat dengan daerah kota di Indonesia. Selain kondisi bangunan sekolah yang memprihatinkan, kurangnya tenaga pendidik juga menjadi permasalahan yang sudah tidak asing lagi.

“Kondisi sekolah pada awal kami datang sangat memperihatinkan. Beberapa kelas rusak, bahkan sebagian tidak memiliki jendela,” kata Yuda saat dihubungi Satu Media, Sabtu (29/4/2017).

Ia juga menjelaskan bahwa fasilitas sekolah yang seharusnya ada sebagai penunjang kegiatan belajar mengajar juga tidak tersedia.

“Perpustakaan tidak ada isinya–tidak ada buku–,tidak ada tiang bendera, tidak ada buku pendukung bagi siswa, bahkan karena kurangnya meja untuk siswa belajar, kami gunakan meja tenis,” tegasnya.

Kondisi geografis yang sulit menjadi kendala tersendiri saat bantuan yang disalurkan pemerintah menjadi tidak optimal.

“Peranan pemerintah belum banyak yang bisa dirasakan, hal ini terkait kondisi geografis yang sangat sulit. Pasalanya, untuk menjangkau lokasi membutuhkan transportasi dengan perahu. Sedangkan biaya bahan bakar seperti bensin sangat mahal mencapai 20 ribu per liter,” jelas pengajar SM3T di Asmat, Papua ini.

“Akibatnya banyak dana BOS yang hanya habis untuk biaya operasional sebagai biaya pembelian bahan bakar baik untuk transportasi kepala sekolah maupun penerangan sekolah karena hanya ada mesin engkol/diesel,” katanya mejelaskan kondisi geografis di Asmat.

Saat ini Asmat sedang merangkak bangkit, hal tersebut terlihat dengan banyaknya bantuan dari warga Indonesia yang turut ikut berpartisipasi dalam penggalan Buku dan Seragam untuk Asmat yang dilakukan pengajar SM3T.

“Kami berharap agar pemerintah daerah maupun pusat dapat lebih memperhatikan dan meningkatkan fasilitas yang ada di sekolah 3T. Tak hanya itu, kontrol dan pengawasan terhadap penggunaan dana dan juga pengawasan terhadap guru tak kalah pentingnya,” ucap Yuda ketika ditanya harapannya kepada pemerintah.

Sumber: https://www.satumedia.co/sisi-lain-dibalik-hardiknas-kisah-dari-pengajar-sm3t-di-asmat-papua-29115
loading...
loading...

0 Response to " Sisi Lain Dibalik Hardiknas: Kisah Guru SM-3T di Asmat Papua "

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungannya di blog "Pak Pandani". Pertanyaan dan komentar silahkan tuliskan pada kotak komentar dibawah ini.