Guru Pedalaman Butuh Penguatan Literasi


Jakarta - Penguatan literasi secara kreatif dan menyenangkan dalam pembelajaran diperkuat bagi guru daerah pedalaman. Sebab, banyak ditemui kompetensi literasi dasar siswa tingkat SD yang belum memadai. Direktur Yayasan Masyarakat Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM-3T) Institute Akhiruddin Haer menyatakan, kepedulian pemerintah dan pemerintah daerah terhadap pendidikan di daerah 3T harus benar-benar diwujudkan. Pendidikan di daerah 3T tertinggal dalam hal yang sangat mendasar, seperti literasi. ”Padahal, pengembangan mutu pendidikan yang unggul, kreatif, inovatif, dan terampil harus terjadi di semua daerah,” kata Akhiruddin di Jakarta, Senin (11/9).

Kepedulian pada pendidikan di daerah 3T, ujarnya, tetap menjadi komitmen alumni SM-3T, yakni calon guru profesional yang ditempatkan di daerah 3T selama satu tahun. Pengabdian sebagai guru ditempa sebelum masuk dalam pendidikan profesi guru. Hari Minggu lalu di Universitas Negeri Jakarta diperingati hari jadi ke-6 program SM- 3T. ”Kami berharap di daerah 3T diprioritaskan pengangkatan guru yang sudah menjalani SM-3T, baik yang murni dari pemerintah pusat maupun daerah.

Di daerah 3T dibutuhkan guru yang mampu berkreasi dan berinovasi, terutama dalam penguatan literasi dan nasionalisme siswa,” ujar Akhiruddin. Menurut dia, sekitar 9.000 calon guru profesional perlu mendapat perhatian dalam pengangkatan guru, terutama untuk mengisi kekurangan guru di daerah 3T. ”Komitmen rekrutmen, perlindungan, dan pengembangan karier yang baik akan membuat guru alumni SM-3T terus kuat dalam pengabdian sebagai pendidik di negeri ini,” ujarnya. Dalam program KFC Berbagi Inspirasi Pendidikan bersama komunitas 1.000 Guru di SDN Mata W Matte, Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur, Kepala SD Induk Simon Bebuma menyambut gembira perhatian dunia usaha dan komunitas terhadap pendidikan anak-anak di daerah pedalaman yang terbatas. ”Kami merasa tidak sendiri mendidik anak-anak. Ada nuansa baru yang diberikan kepada anak-anak, belajar soal beragam profesi, belajar di luar kelas sambil bermain dan bernyanyi, serta sejumlah kegiatan dan alat peraga,” ujarnya.

Alat peraga Guru honorer sekolah, Yandrianus I Kaleka, mengatakan, guru hanya mengandalkan buku teks untuk belajar. Alat-alat peraga terbatas sehingga tidak semua siswa mudah memahami materi yang disampaikan. Yandrianus menjadi guru honorer dengan ijazah SMA. Saat ini, ia sedang kuliah semester V dengan biaya sendiri di sekolah tinggi teologi di ibu kota kabupaten. Penggagas komunitas 1.000 Guru, Jemi Ngadiono, mengatakan, kepedulian terhadap pendidikan dan gizi anakanak sekolah di daerah 3T harus ditumbuhkan. Sebab, kondisi pendidikan anak-anak ini begitu menyedihkan. ”Ada siswa kelas VI yang sudah mau ujian, tetapi belum lancar membaca. Banyak anak yang tidak kembali lagi ke sekolah karena pulang ke rumah yang jauh jaraknya untuk makan,” ujar Jemi

Sumber: Kompas · 12 Sep 2017
Link: https://www.pressreader.com/indonesia/kompas/20170912/281758449449822

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungannya di Blog Pak Pandani | Belajar dan Berbagi. Jika ada pertanyaan, saran, dan komentar silahkan tuliskan pada kotak komentar dibawah ini....

Salam Pak Pandani

Lebih baru Lebih lama