Kisah Dari Gayo Lues “Mengabdi di Tanah Seribu Bukit”

loading...
Dalam upaya menigkatkan pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM ) secara merata di seluruh wilayah Indonesia, terutama di daerah-daerah yang masih tertinggal. Untuk itu Pemerintah membuat suatu kebijakan dalam program pendidikan yaitu Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM-3T). Program ini menjadi salah satu sarana pemerintah dalam mencetak guru-guru Profesional melalui pengabdian di daerah 3T dan Pendidikan Profesi Guru (PPG). Guru SM-3T akan ditempatkan di seluruh sekolah wilayah Indonesia terutama di daerah terdepan, terluar, tertinggal (3T).
Perkenalkan saya “Umi Habibah” saya akan memulai cerita saya dari sini, setelah Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) pada bulan September 2016, saya berpikir di akhir semester ini lebih mudah. Wah! ternyata perjuangan sebagai seorang mahasiswa belum berakhir malah di semester akhir ini semakin sulit, mulai dari pemilihan dosen pembimbing hingga penulisan skripsi. Pada akhir semester semua mahasiswa pasti mendapatkan kesulitan khususnya saya pribadi. Namun berkat doa dari orang tua, bimbingan Dosen, serta bantuan dan motivasi dari teman- teman alhasil saya dapat menyelesaikan Skripsi dengan baik dengan limit waktu selama 6 bulan, terhitung mulai dari bulan Oktober 2015 hingga bulan Maret 2016.

Setelah lulus dari kampus Universitas Muhammadiyah Purworejo sebagai wisudawati terbaik dengan IPK yang memuaskan yaitu 3.68. Kemudian saya memutuskan untuk mengikuti program SM3T dan secara kebetulan program itu dibuka pada bulan Juli 2016. Tanpa banyak berpikir saya mendaftarkan diri melalui LPTK UNY ke-program SM-3T dan ternyata ribuan sarjana pendidikan telah mendaftar, namun tidak membuat semangat saya menurun.

Tahapan untuk seleksi SM3T tahun 2016 ini meliputi tahap administrasi, seleksi tertulis dan wawancara. Untuk tahap pertama adalah administrasi, tahap ini bisa dikatakan tahap yang paling mudah. Kami hanya diseleksi berdasarkan IPK, akreditasi prodi dan tahun lulus. Tahap yang kedua merupakan tahap seleksi tes tertulis, pada tahap ini kami akan diuji kemampuan bidang studinya masing-masing. Misalnya bidang study matematika, yang diuji meliputi logika matematika, geometri analitika, kalkulus, persamaan diferensial, statistika, serta statistik matematika. Nah, untuk tahap yang kedua ini menurut saya tahap seleksi yang lumayan sulit, karena pada tahap ini banyak mahasiswa yang gugur karena tidak memenuhi kualifikasi nilainya. Namun,“ hasil tidak akan menghianati usaha”, apabila kita benar-benar berusaha pasti akan berhasil. Setelah tahap kedua lolos kami akan memasuki tahap yang ketiga yaitu tahap seleksi wawancara dan peer teaching. Pada tahap ini kami diberi pertanyaan tentang organisasi yang pernah kami ikuti selama kuliah, beserta dengan jabatan dan kontribusi dalam organisasi tersebut. Selain organisasi di kampus, kami juga diberi pertanyaan tentang keaktifan berorganisasi di desa seperti karang taruna, Pemuda Pancasila dan lain sebagainya yang dibuktikan dengan menunjukkan sertifikat maupun piagam penghargaan pada saat berorganisasi itu.
Setelah selesai wawancara kami melakukan peer teaching. Pada saat peer teaching kami sengaja tidak disediakan papan tulis dan spidol dengan tujuan agar kami mampu mengajar meskipun peralatan tidak memadai di tempat kami mengajar nantinya.

Nah, setelah lolos tahap ketiga ini kami akan melewati tahap yang terakhir, dari semua seleksi yaitu prakondisi. Untuk LPTK Universitas Negeri Yogyakarta, kami akan dibimbing di AAU (Akademi Angkatan Udara). Disana kami akan belajar bagaimana cara bertahan hidup dan disana juga akan dilatih ketahanan fisik. Berkat berkumpul prakondisi di AAU kami banyak mengenal teman-teman seperjuangan yang akan berjuang bersama-sama selama 1 tahun ke depan di daerah yang di tempatankan.

Alhamdulillah saya diberikan kesempataan untuk berbakti dan mengabdi kepada pemerintah alias saya LULUS, saya sangat merasa senang. Ternyata daerah penempatan untuk tiap LPTK berbeda-beda, untuk tahun ini Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) mendapatkan tempat penugasan di wilayah Aceh, Kalimantan, NTT, Maluku, Sulawesi dan Riau. Alhamdulillah saya di tempatkan di Kabupaten Gayo Lues, Aceh.

Pada tanggal 6 September 2016 saya berangkat ke Gayo Lues dengan hati yang kurang semangat karena saya masih memiliki satu kewajiban untuk mengikuti prosesi terakhir sebagai sarjana yaitu wisuda, padahal tanggal 10 September 2016 jadwal wisuda saya dan akhirnya saya membuat surat izin tidak mengikuti wisuda.Walaupun saya tidak mengikuti wisuda, tetapi saya tetap bersyukur kepada Tuhan karena saya masih diberi kesempatan untuk mengabdi di tanah Seribu Bukit.

Kabupaten Gayo Lues adalah hasil pemekaran dari Kabupaten Aceh Tenggara pada tahun 2002. Gayo Lues memiliki Hukum Syariat Islam dimana setiap muslimah diwajibkan untuk menggunakan baju yang menutup aurat dan menggunakan jilbab serta adanya hukum rajam. Selang 5 hari setelah mengikuti prakondisi, peserta SM-3T untuk Kabupaten Gayo Lues diberangkatkan menuju tempat pengabdian.

Hati saya semakin gugup pada saat itu, karena ini adalah perjalanan pertama saya menuju daerah ujung Indonesia bagian barat ini. Namun perasaan tersebut sirna ketika kami sudah menapaki tanah Gayo, yang memiliki keindahan alam yang luar biasa dan masih terjaga keasliannya. Kondisi alam yang natural dan masyarakatnya yang ramah membuat saya nyaman ketika pertama kali datang ke Gayo Lues. Saya dan teman-teman SM-3T lain berharap dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan pendidikan di Kabupaten Gayo Lues ini. setelah melewati perjalanan sekitar 14 jam dari Medan, akhirnya saya dan keempat rekan saya sampai di SMP N 1 Pining.

Sekolah penempatan guru SM-3T dibagikan berdasarkan Surat Keputusan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Gayo Lues. Berdasarkan SK, saya ditempatkan di SMP Negeri Satu Atap Pasir Putih. Namun, sekolah ini merupakan sekolah yang baru, pembangunan gedung sekolahnya akan selesai pada bulan Januari 2017. Oleh sebab itu, saya dan rekan saya Wigi Aziz S. akhirnya untuk semester 1 kami diperbantukan mengajar di SMP N 1 Pining. Kami berlima menempati satu mess di Kampung Pining, yang berada di depan sekolah. Kampung Pining merupakan salah satu kampung (desa) di Kecamatan Pining. Kampung Pining tempat kami bertugas ini sudah tersedia akses listrik dan air, namun untuk sinyal provider tidak ada sama sekali. Akan tetapi, disini telah tersedia jaringan wifi di SMP Negeri 1 Pining yang bisa digunakan oleh warga sekolah dan masyarakat sekitar sekolah.
Kisah yang menyenangkan adalah mengenal dan bergaul dengan masyarakat sekitar sekolah dan tempat tinggal. Kekeluargaan disini sangatlah kental. Saya dapat mengatakan hal tersebut karena dimanapun saya berada saya tidak akan merasa kelaparan. Dimana kami bertamu, selalu ada hidangan tersedia. Itulah kampung Pining, sangat menghargai keberadaan tamu.

Pengalaman pertama saya mengajar di lokal (kelas), saya dibuat heran dan bingung dengan sikap anak-anak. Setelah saya menjelas panjang lebar di depan kelas, tidak ada satu pun anak yang menanggapi pertanyaan saya. Saat itu saya baru sadar, ternyata saya terlalu cepat berbicara menggunakan bahasa Indonesia, sedangkan anak-anak kurang mengerti beberapa kosa kata bahasa Indonesia, karena memang bahasa yang mereka gunakan setiap harinya adalah bahasa Gayo.

Setiap mulai pelajaran, sesegera anak-anak membuka lembar demi lembar buku tulis lusuh yang mereka gunakan untuk merekam pengetahuan yang diberikan guru. Setiap pembelajaran, hanya buku lusuh tersebut yang menjadi pegangan beberapa siswa. Buku paket yang tersedia tidak dapat memenuhi kebutuhan di setiap jenjang kelasnya. Alhasil, disetiap awal pembelajaran kegiatan mencatat menjadi hal yang wajib dilakukan, tentunya sangat mengurangi efektivitas waktu.



“Win, enti dagi”,anak-anak jangan nakal, perhatikan apa yang akan ibu jelaskan. Kalau kalian tidak mau belajar, keluar saja dari lokal, jangan menganggu teman-teman kalian yang mau belajar.” Itulah ucapan yang selalu saya katakan di setiap mengawali pembelajaran. Hal ini saya lakukan karena ada beberapa siswa yang sering berbuat onar di kelas sehingga mengganggu pembelajaran.. Bahkan ada beberapa siswa sudah terancam untuk dikeluarkan dari sekolah, namun masih saja berbuat onar. Menegur siswa dengan kekerasan, bukanlah hal yang aneh di sekolah tempat saya mengabdi. Namun ini terjadi ketika ulah siswa sudah sangat keterlaluan dan tidak bisa diselesaikan secara lisan.

Keterbatasan fasilitas tidak mengurangi semangat anak-anak untuk menggali bakat mereka,. Meski pun kualitas akademiknya masih rendah, namun kompetensi psikomotorik mereka sangat unggul. Di bidang seni, anak-anak sangat menguasi tari Saman dan Bines. Tari Saman ini bahkan telah dibuatkan event seperti pemecahan rekor MURI tari Saman 5.001 peserta, kemudian di tahun 2017 ini akan dilaksanakan tari Saman 10.001 peserta.

Selain mengajar ada beberapa kegiatan yang kami lakukan di kecamatan pining ini, salah satunya kegiatan rutin pusling (perpustakaan keliling). Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan minat baca anak-anak didaerah 3T. Kami dibantu oleh pengurus OSIS SMA N 1 Pining. Setiap hari kamis dan jumat kami berkeliling kampung di kecamatan Pining ini.

Penulis: 


“Umi Habibah”

Guru Kontrak Pusat (SM-3T angkatan 6)
Nama Kantor : SMP Negeri 1 Pining, Pining Gayo Lues

loading...

0 Response to " Kisah Dari Gayo Lues “Mengabdi di Tanah Seribu Bukit” "

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungannya di blog "Pak Pandani". Pertanyaan dan komentar silahkan tuliskan pada kotak komentar dibawah ini.