Literasi Berbasis Lokal di Daerah 3T


JAKARTA — Kemampuan literasi dasar dalam membaca, menulis, dan menghitung atau calistung siswa di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) masih menjadi tantangan. Para guru di daerah 3T tersebut mendapat bekal untuk mengembangkan pendidikan literasi berbasis lokal. ”Siswa baru yang masuk ke sekolah kami datang dari sejumlah pulau yang pendidikannya tidak optimal. 

Kami pun mengambil kebijakan di kelas X diadakan matrikulasi calistung. Semua guru membantu siswa untuk menguasai calistung yang seharusnya dikuasai lulusan SMP. Termasuk pula mendampingi dalam kemampuan komputer dasar dan bahasa Inggris,” kata Kepala SMKN 2 Raja Ampat, Papua, Hasan Makasar, dalam Lokakarya Diseminasi Akhir Program Pendampingan Pemerataan Mutu Guru Dalam Peningkatan Literasi di Sekolah Daerah 3T, di Jakarta, Rabu (19/7). 

Nurhayati, guru SMA YPK Aitumieri, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat, mengatakan, banyak siswa dari desa-desa terpencil belum memiliki kemampuan calistung yang baik, padahal sudah lulus SMP. ”Untuk perkalian, siswa umumnya sudah bisa, tetapi pembagian belum. Menulis pun ada yang tidak lengkap hurufnya. Jadi, siswa baru di kelas X yang belum bagus calistungnya harus diajar kembali,” ujar Nurhayati. Salah satu cara adalah dengan mengembangkan kegiatan yang tidak asing bagi siswa. 

Dalam pelajaran berhitung, ujar Nurhayati, sisir bambu (biasa dipakai untuk jenis rambut keras oleh masyarakat) dimanfaatkan. Kegiatan merajut atau menganyam noken juga dapat dipakai membantu siswa belajar berhitung. Ramli Ama, guru SDN 018 Sembakung, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, mengatakan, pelatihan bagi guru untuk memperkuat literasi siswa memicu mereka untuk mendorong siswa membaca.

 ”Kami ajak siswa membaca buku dengan suasana yang lain, semisal di dermaga, sehingga membaca jadi asyik. Mereka pun jadi lancar membaca,” kata Ramli. Ketua Program Pemerataan Mutu dalam Peningkatan Literasi di Sekolah Daerah 3T dari Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Renny Yunus mengatakan, dari pemetaan yang melibatkan guru Sarjana Mendidik di Daerah 3T (SM3T) di 56 kabupaten, terungkap masalah literasi dasar calistung siswa di daerah 3T rendah. Padahal, kemampuan calistung sangat penting untuk keberlanjutan belajar siswa. 

”Berdasarkan pemetaan dari lapangan ini, kami mendesain program supaya guru-guru diperkuat kemampuan mengajar literasi. Caranya, dengan membantu guru memanfaatkan apa yang dikenali siswa di lingkungannya. Bisa lewat permainan tradisional, lagu daerah, ataupun budaya daerah,” ujarnya.

Kompas · 20 Jul 2017

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungannya di Blog Pak Pandani | Belajar dan Berbagi. Jika ada pertanyaan, saran, dan komentar silahkan tuliskan pada kotak komentar dibawah ini....

Salam Pak Pandani

Lebih baru Lebih lama