3.1.a.10 Aksi Nyata - Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran

 Aksi Nyata - Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran

Oleh: Irfan Dani, S.Pd.

CGP Angkatan 4 Kabupaten Aceh Selatan.


Pembinaan Siswa Oleh CGP

Peritiwa (Facts)

Pada Hari jum'at tanggal 27 Mei 2022 sekolah kami mulai mengadakan kegiatan ujian semester berbasis aplikasi android (USBA). Kegiatan ujian dengan menggunakan HP android dengan sistem full online  sudah 2 tahun ini kami lakukan disekolah dengan evaluasi yang ketat. Dalam pelakasaann ujian saya dipercaya oleh pihak sekolah sebagai panitia khususnya penanggung jawab aplikasi ujian. Setiap hari saya coba melakukan refleksi dari proses yang terjadi ketika ujian dilaksanakan. Saya memampung segala pengaduan dari siswa dan membuka kesempatan bagi siswa untuk melaporkan segala kejadian terjadi saat ujian dengan komunikasi via WA. 

Pada hari kedua ujian, saya mendapatkan laporan dari siswa via WA bahwa ada temannya yang melakukan kecurangan pada saat ujian. Kejadian ini langsung saya telusuri dengan memanggil nama-nama siswa yang dilaporkan dengan tetap menjaga kerahasian identitas si pelapor. Satu persatu siswa informasi saya gali dari siswa yang dipanggil dan akhirnya ada 6 orang siswa yang terlibat dalam kasus tersebut. Dalam proses pencarian fakta untuk membuktikan kecurangan yang dilakukan oleh siswa saya coba melakukan periksaan terhadap HP yang digunakan oleh siswa. Ternyata disamping melakukan kecurangan saat ujian saya menemukan permasalahan lain, dimana HP yang mereka gunakan dipakai dicoba untuk mengakses konten-konten yang bukan peruntukan bagi mereka. 

Dalam kasus ini, saya harus membuat keputusan apakah cukup menasehati saja atau memproses kasus ke pihak sekolah?


Dilema etika Yang terjadi

Adapun paradigma etika yang terjadi adalah Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term). Karena jika permasalah ini tidak saya tangani secara serius maka akan berimbas pada ujian dimasa mendatang dan pembinaan karakter siswa harus dibina sejak dini supaya tidak terjadi ha-hal yang tidak kita inginkan di masa depan.


Prinsip Pengambilan Keputusan

Prinip pengambilan keputusan yang saya ambil adalah Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking) karena dalam kasus ini sangat dibutuhkan pembinaan dari sekolah maupun dari orang tua sebagai bentuk rasa peduli kita sebagai seorang pendidik untuk amsa depan anak.


9 Langkah Pengambilan keputusan.

1. Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan
Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)  

2. Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini. 
Siswa, Guru, Panitia Ujian, Wakil Bidang Kesiswaan, Kepala Sekolah, dan Orang tua.

3. Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini.
-Ada siswa yang berbuat curang ketika ujian
-Ada siswa yang mencoba mengakses konten yang bukan untuk mereka.

4. Pengujian benar atau salah
1. Uji Legal 
Tidak aspek pelanggaran hukum.

2. Uji Regulasi/Standar Profesional
Tidak ada aspek pelanggaran kode etik.

3. Uji Intuisi
Tidak ada

4. Uji Publikasi
Tidak masalah

5. Uji Panutan/Idola
Jika keputusan ini diambil oleh panutan saya maka dia akan melakukan hal yang sama.

  

5. Pengujian Paradigma Benar lawan Benar.
- Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

6. Melakukan Prinsip Resolusi 

  • Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking

 7. Investigasi Opsi Trilema

  •  Melaporkan kasus ke Guru Bimbingan Konseling.

8. Buat Keputusan

  • Keputusan yang diambil adalah memproses siswa sebagai panitia ujian dan melanjutkan ke pihak sekolah untuk dilakukan pemanggilan untuk dilakukan pembinaan dengan orang tua disekolah. 

 9. Lihat lagi Keputusan dan Refleksikan

Dari kasus ini memang dibutuhkan pembinaan dari semua pihak, terutama Sekolah, Orang tua dan masyarakat sebagai tri sentra pendidikan. Tanpa kerja sama tiga pihak tersebut makan penyelengaraan pendidikan tidak akan maksimal. Anak-anak adalah tanggung jawab kita bersama jadi tidak bisa di serahkan begitu saja pada satu pihak sepenuhnya. 

Pembinaan Siswa Oleh CGP

Perasaan (Feeling)

Setelah dilakukan 9 tahap langkah pengamblan keputusan, saya berkesimpulan permasalahan ini memang benar termasuk dalam dilema etika (Benar Vs Benar). Dinama ketika kita merasakan harus memilih hal benar menurut jangka pendek untuk saat itu atau berfikir memilih melakukan suatu kebenaran untuk anak-anak kita dimasa yang mendatang. Jika kasus seperti ini tidak diatasi segera maka sangat berdampak pada pembentukan karakter siswa karena bisa mental mereka bisa terpengaruh pada hal-hal yang negatif dan juga akan bisa berdampak pada perilaku mereka.

Pembelajaran (Finding) 
Ada dua pembelajaran untuama yang saya petik dari kasus yang dihadapi:
  1. Sebagai panitia ujian saya selalu berbenah diri setiap hari untuk menerima masukan dan merespon dinamika yang terjadi, setiap pagi sebelum mulai ujian saya selalu mengumpulkan pengawas ujian dan panitia di kantor untuk melakukan briefing perbaikan. Karena bagi saya setiap hari harus ada evaluasi dan perbaikan. Memang tidak ada yang sempurna dalam melakukan kegiatan, namun berusaha untuk menjadi sempurna merupakan kewajiban kita sebagai mansuai yang diberikan akal dan kecerdasan. 
  2. Sebagai guru/orang tua sekolah, saya mersa perlu adanya edukasi atau pembinaan positif bagi siswa untuk menangkal konten-konten negatif yang mereka dapatkan dari perangkat seluler yang mereka miliki. Tanpa filter dan pengawasan dari orang tua ini bisa menjadi celah yang menjerumuskan siswa dalam perilaku anah dan menyimpang. Karena mereka mengakses konten tanpa ada bimbingan dari orang tua.
Penerapan.

Saya sudah berdiskusi dengan pihak sekolah terutama kepada Kepala sekolah dan komite untuk memberikan pembinaan kepada siswa untuk cakap dan litasi digital positif. Ha pertama yang akan dilakukan adalah melakukan sosialisi filter digital kepada siswa baik dalam pelaksanaan upacara bendera maupun penyampaian secara langsung dikelas, serta membuat kampanye internet positif. Yang kedua akan melakukan pemeriksaan kapada perangkat Seluler siswa untuk fungsi pengawasan dan kontrol sekolah dalam membina karakter siswa dalam kemajuan teknologi. Yang ketiga memberikan sosialiasi kepada orang tua untuk bisa belajar menguasai teknologi terutama Smartphone sebagai fungsi pengawasan siswa didalam kehidupan keluarga. Dianjurkan orang tua bisa melakukan kontrol berkala pada perangkat Smarphone milik anak-anaknya supaya bisa mencegah hal-hal yang bisa berdampak negatif bagi mereka. 


Post a Comment

Terima kasih atas kunjungannya di Blog Pak Pandani | Belajar dan Berbagi. Jika ada pertanyaan, saran, dan komentar silahkan tuliskan pada kotak komentar dibawah ini....

Salam Pak Pandani

Lebih baru Lebih lama

Iklan Dibawah Judul

Iklan Setelah Postingan