Pendidikan Profesi Guru Ada Subsidi


Jakarta - Penyiapan calon guru profesional lewat pendidikan profesi guru dilakukan dengan jalur subsidi dari pemerintah dan mandiri. Namun, calon guru yang dapat mengikuti pendidikan profesi guru jumlahnya dibatasi dan melalui seleksi ketat. Direktur Pembelajaran, Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Paristiyanti Nurwardani di Jakarta, Selasa (17/10), mengatakan, untuk tahun ini yang tersaring mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG) prajabatan bersubsidi 4.661 orang. Mereka diseleksi dari 22.000 pendaftar dari sarjana pendidikan dan nonpendidikan. ”PPG bisa diikuti sarjana pendidikan dan nonpendidikan yang memenuhi syarat. Pendidikannya selama satu tahun,” kata Paristiyanti. Menurut Paristiyanti, calon guru yang mendaftar di PPG harus memenuhi syarat, antara lain, memiliki indeks prestasi kumulatif minimal 3,00, lulusan PT berakreditasi B, lulus seleksi administrasi, dan tes secara daring. Setelah itu, ada psikotes untuk menilai minat dan bakat menjadi pendidik. Subsidi PPG untuk calon guru, katanya, hanya untuk pendidikan akademik dan karakter. Pemerintah mengalokasikan subsidi Rp 7,5 juta per semester per orang. Adapun biaya personal ditanggung mahasiswa PPG. 

Guru menjadi faktor kunci yang harus disiapkan secara serius untuk membenahi kondisi pendidikan.

 ”Tahun depan direncanakan untuk menyubsidi 25.000 calon guru. Padahal, kebutuhan guru 40.000-60.000 orang per tahun,” kata Paristiyanti. Oleh karena itu, PPG juga akan dibuka secara mandiri, yang artinya biaya pendidikan ditanggung peserta. Namun, kuota tetap dibatasi. Adapun untuk guru yang belum menjadi guru profesional, tetap mengikuti PPG. Meski begitu, pengalaman mengajar para guru diperhitungkan. 

Faktor kunci 

Saat ini, Kemristek dan Dikti menyiapkan program studi PPG. Penjaminan kualitas dilakukan dengan menetapkan akreditasi program studi A, kecuali di daerah yang diberi mandat khusus oleh Menristek dan Dikti, seperti di kawasan Indonesia timur. Secara terpisah, praktisi pendidikan dan pendiri Kampus Guru Cikal, Najelaa Shihab, mengatakan, guru menjadi faktor kunci yang harus disiapkan secara serius untuk membenahi kondisi pendidikan. 

”Kita butuh guru yang merdeka belajar, yang mengerti tujuannya menjadi seorang pendidik,” kata Najelaa. Kampus Guru Cikal menggagas pembentukan Komunitas Guru Belajar di sejumlah daerah dan menggelar pertemuan tahunan Temu Pendidik Nusantara. Profesionalisme pendidik ditingkatkan dengan fokus pada empat hal, yakni dengan memberikan bekal menjadi guru yang merdeka (tahu tujuan sebagai pendidik, mandiri, dan reflektif ), memiliki kompetensi, mampu membangun kolaborasi/jejaring dengan sesama guru dan sumber belajar lain, serta mengembangkan karier guru. Praktisi pendidikan Handoko Widagdo mengatakan, jika mengacu pada keberhasilan pendidikan di Finlandia yang jadi salah satu rujukan pendidikan dunia, proses belajar yang diterapkan berbasis siswa. 

Hal ini memerlukan kematangan siswa dan kesiapan guru. ”Keberhasilan pendidikan terjadi, antara lain, karena penyiapan guru dan otonomi guru yang begitu besar dikembangkan lama dengan berbasis pada budaya di negara tersebut. Bukan tidak mungkin kita bisa, dengan membenahi pendidikan guru dan sistem pendidikan yang tidak instan,” kata Handoko.

Sumber: Kompas · 18 Oct 2017 
https://www.pressreader.com/indonesia/kompas/20171018/281736974685274

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungannya di Blog Pak Pandani | Belajar dan Berbagi. Jika ada pertanyaan, saran, dan komentar silahkan tuliskan pada kotak komentar dibawah ini....

Salam Pak Pandani

Lebih baru Lebih lama